2 Quotes that I Love

I have 2 quotes that I love and I think it’s right and I agree with that quotes.

First quote is from @jauhari a wordpress developer also a blogger. He said;

Nganggur itu TETAP Anugerah, SUMPAH…  – Nurudin Jauhari

Maybe we can say in English like;

Being jobless/unemployment is a boon, really… – Nurudin Jauhari

Yes that’s right, when I decided to be a freelancer like I said in my previous post it was not as easy as like I imagine. In the beginning I had nothing to do and being jobless, because of that I try to find some activity related my passion, and find a way how to be a freelancer. I filled my day to create my brand, follow people who have same passion with me on twitter, create everything in my head like website mockup (because I love design), collaboration with some people and then I created my personal website and blog about freebies. After that some people knew me as front-end developer (like I said on my website) and projects came to me.

Second quote is from @hfz a wordpress developer, blogger and also I admire him because of the way he think about everything. He said;

Start Ugly Things – Hafiz Rahman

He also write in medium. I agree with everything in the post :).

Sometimes we create everything and took a long time to release just because we try to find a good things and hopefully make a great result of it. But it just good for us, not for the user/audience. When we create it just for us it doesn’t matter,  but when we create it for other users, we also need feed back from them. You think that “it is good” but some people maybe say the other way. That’s why “Starts Ugly Things” is the right wisdom when you want to create something.

Chit-chat with kang Dicky Sukmana di kelas AkberMlg

Scrolling timeline twitter sudah menjadi kegiatan rutin bagi saya. Dari sana saya sering mendapat informasi atau hanya sekedar bahan bacaan random. Kali ini saya melihat salah satu tweet dari @EventMalang yang menginformasikan adanya kelas akber (Akademi Berbagi) di Houtenhand cafe dengan pemateri Kang Dicky Sukmana. Kang Dicky lebih dikenal sebagai “tukang kaos” founder distro Invictus, salah satu distro tertua di Indonesia dan bisa dibilang cikal bakal distro di Indonesia. Tapi sebenarnya 5 tahun ini Dia sudah tidak terjun langsung mengurusi bisnis distronya, tapi sudah beralih ke Digital Agensi dan hal-hal lain yang dia anggap sebagai “mainannya”.

Oh iya sebelumnya saya belum pernah mengikuti kelas akber di malang, karena temanya soal “Creativepreneur” dan pematerinya yang gue pikir capable di bidang itu, makanya saya ikut. Dan ternyata kelas akber yang diadakan pada hari itu adalah dadakan karena kebetulan Kang Dicky lagi di Malang untuk event Kickfest. Jadi disana lebih ke cerita-cerita dan saling ngobrol asyik.

Dalam tulisan kali ini saya mencoba merangkum beberapa poin  yang saya dapat dari ngobrol asyik bersama kang Dicky Sukmana di kelas akbermalang. Poin-poin itu diantaranya;

  1. Kebanyakan ide berasal dari iseng.

    Kebanyakan ide yang didapet Kang Dicky biasanya berawal dari keisengan. Contohnya saat dia bikin @infobandung. Alasan dia bikin akun twitter @infobandung adalah saat Google nggk bisa jawab pertanyaan “Dimana sih tambal ban yang masih buka di sekitar jalan Sukarno-Hatta?”. Dan akhirnya dia bikinlah @infobandung dengan harapan kalau ada yang tanya ke @infobandung yang jawab pasti banyak.

    Dari situ Dia ditawari menjadi admin akun twitter salah satu brand snack ternama. Ketika ditanya soal bayaran, Kang Dicky masih belum bisa ngasih harga pasti, karena dia pikir ngetweet adalah hobi dan tidak ada guideline buat dia harus ngetweet apa, dia bilang sih “ngetweet semau gue” dan orang dari brand snack pun bales bilang “bayar semau gue kalau gitu”. Jadi tidak ada nominal pasti saat itu untuk tarif jasa menjadi admin akun twitter dengan tujuan bisnis. Setelah beberapa bulan develop akun tersebut, bayaran yang tadinya dijanjikan “semau gue yang bayar” menyebutkan angka yang tidak terbayangkan, bisa jadi 3 kali lipat dari angka yang pernah dibayangkan oleh Kang Dicky. Dari sana dia mulai sadar kalau kegiatan ngetweet pun bisa menghasilkan duit.

  2. Ketika bosan tinggalin, apalagi bosen itu bikin kalian tertekan

    Saya kira saya adalah orang yang paling membosankan karena sering merasa bosan, dan saya sempat bepikir apa ada yang aneh dengan diri saya? Ternyata tidak, bosan itu manusiawi. Kalau kata Kang Dicky kalau kita uda mulai bosan lebih baik kita tinggalkan kegiatan itu, nanti juga kangen kayak pacaran gitu. Apa lagi kalau uda bosan plus tertekan, harus cepet-cepet tinggalin itu, daripada kita cuma buang-buang waktu disitu dan pastinya kita nggk akan maksimal disitu. Masih banyak kegitan lain yang menunggu untuk kamu kerjain dengan maksimal dan sepenuh hati.

  3. Klasifikasi client

    Disana kita juga sempet ngobrol-ngobrol soal kerjaan yang kita lakuin. Ada kesamaan diantara kami *etjiee sayangnya bukan rate *ahahaha, tapi klien. Kita sama-sama memperkerjakan diri kita buat klien, bedanya Kang Dicky dapet klien kelas kakap, kalau saya kelas teri :P. Dia mengklasifikasikan klien menjadi beberapa tipe;
    a. Klien yg pinter dan punya duit
    b. Klien pinter tapi ga punya duit
    c. Klien bodoh tapi punya duit
    d. Klien bodoh tapi ga punya duit (klienbangke)
    Dari 4 jenis klien tadi tentunya paling enak dapet klien jenis (a) dan yang paling ga enak dapet klien jenis (d) atau biasa kita sebut #klienbangke. Kalau uda dapet klien kayak gitu mending kita pecat aja dia jadi klien. Ahahaha.

  4. Punya produk tapi kenapa masih nglient?

    Saat ini saya berada dalam keadaan bosan nglient dan lagi pengen punya produk. Yang saya binguin disini kenapa orang-orang besar yang sebenernya dia sudah punya produk tapi koq masih mencari klien? Kalau menurut kang Dicky itu bisa jadi pengalihan kebosanan, ketika kita bosen bekerja dengan klien kita bisa bikin produk begitu juga sebaliknya. Namun produk juga butuh makan sebelum dia besar dan menghasilkan, cara ngasih makannya adalah dari duit si klien. Kalau emang kita uda punya duit buat ngasih makan produk kita ya ga usah nglien bisa.

    Disini saya punya pendapat sendiri sih, ketika kita uda punya produk dan produk itu udah well known kita bisa aja mencari klien dan pilih-pilih klien. Atau bahkan kita bisa nyari klien yang jenis (a) saja. Jadi menginvestkan waktu, tenaga dan materi untuk memfokuskan diri building product itu ga ada ruginya.

  5. Jangan cari uang tapi cari materi. Semesta mendukung

    Ini saya yang agak kurang ngerti. Apa bedanya uang sama materi? Yang dijadikan contoh sama kang Dicky disini adalah targetnya bukan uang tapi barang atau tujuan lainnya. Misalnya kita punya cita-cita pengen beli electrik gitar. Nah yang dijadikan semangat buat kerja disana ada barang itu tadi. Kalau kita punya keinginan yang spesifik tidak hanya ingin uang tapi uang itu buat apa itu kita akan lebih bersemangat untuk mencapai itu dan semesta pasti mendukung.

    Contoh lainnya adalah ketika kang Dicky pengen keliling Indonesia gratis. Apa yang dia lakuin biar cita-citanya terwujud? Dia fokus dengan bisnis kaosnya dan tetep membayangkan di bisa keliling Indonesia gratis. Dan memang semesta mendukung, suatu hari dia di kontak oleh salah satu artist yang akan mengadakan tour keliling indonesia dan membutuhkan wardrobe untuk itu semua. Karena dia sanggup untuk menuhin itu, dia dimasukan dalam list tour team artist. Dan nggk nyangka dia bisa keliling Indonesia gratis, nggk gratis sih dia masih ngeluarin kaos untuk biaya itu, eh tapi itu juga termasuk promosi, jadi bisa dibilang gratis :D.

  6. Testing pasar sebelum bikin produk (penipu)

    Kali ini kang Dicky jelasin trik untuk testing pasar sebelum membikin produk atau membuka suatu usaha. Yang dia contohkan untuk kasus ini adalah temannya yang ingin buka salon untuk anjing. Karena bianya untuk membuka salon anjing itu tidak murah sempat menyurutkan niatnya karena takut nanti nggk ramai dan rugi ujung-ujungnya gulung tikar.

    Jadi trik apa yang dilakukan untuk testing pasar (dalam hal ini pasar untuk salon anjing)? Dia mencetak brosur dan disebarkan di perumahan-perumahan elit di Bandung. Setelah di pagi harinya dia menyebar brosur siang harinya ada 3 orang penelpon yang menelpon meskipun hanya sekedar tanya harga dan sistemnya seperti apa. Dari situ sudah bisa kita lihat bahwa ada peminat dengan dibukanya salon anjing nanti, meskipun sebenarnya salonnya pun belum ada. Keesokan harinya ada pelanggan yang minta disalonkan anjingnya. Disini dia memakai sistem delivery service (antar-jemput) biar ga ketahuan kalo salon sebenernya belum ada dan disalonkan ke tempat lain sebenarnya.

    Karena melihat kalau pasar untuk salon anjing itu ada maka dia memutuskan untuk membuka salon anjing yang sebenarnya. Begitulah kira-kira salah satu cara untuk testing pasar kalau kita ragu untuk membuat produk atau membuka usaha.

Nah kurang lebih seperti itu sih obrolan asyik nan singkat sama kang Dicky. Mungkin ada beberapa yang saya tambahin, kurangin atau karang dikit. Soalnya agak lupa juga kata-kata pastinya, maklumlah manusia. Tapi intinya gitu lah :)

Freelance Paradigm

More than 3 years I chose to be a freelancer after I worked as full-time officer in one of IT company in my town. I’ve thought hardly before I decide to be full-time freelance, and I hope I’ll be a better person who can get financial freedom from my freelance life.

Why I chose to be a freelancer? I have some considerations about that:

  1. I’ll have flexible time
    I can work every time like I want. I can work at afternoon and in the morning I play or doing some fun things.
  2. Do everything I love
    When I was a full-time officer sometime I dislike some jobs that are not suitable with my positions, that’s why I chose it.
  3. More Income
    Get more income is definitely one of some reasons why I chose to be a freelancer. So many success story from some freelancers, it push me to resign from my office.
  4. No pressure from the boss

Based on my considerations, I decide to be a full-time freelancer. But it was not as easy as like I imagine. I still don’t know how to get client, how to communicate with them etc, because before I became a full-time freelancer, I was a half-time freelancer and I got job from my friend. When my friend didn’t have a job, neither am I. So my life depend on my friend’s life. I was in doubt about that situation, did I choose wrong step? I didn’t get income on that month, it made me more confuse, should I send application to some companies and become officer again? But I didn’t choose it, I still try to be a full-time freelancer and learn how to be better.

After I learn and try everything based on advice from another freelancers, I got noticed and I got some clients. Some clients who satisfied with my work sometimes comeback to me for another job. And some clients hire me regularly for a big projects. When I do regular project from that client, I often rejecting another freelance jobs, because I don’t want to make him disappointed.

Sometimes when I accepted some freelance jobs, I felt there is no flexible time for freelance life, moreover now I start to think I’ve to have product. I don’t want to be a freelancer forever. Freelancer is almost the same like officer, when you still depend on client and always follow every instruction from your client it’s same like your client is your boss.

I just realised that to be a freelancer is step to be an entrepreneur. Freelance is not the final destination. When you are a freelancer now, you have to think to make a product, to build your passive income. And now I never blame full-time officer, because they are same like me. Maybe they are saving their money to build something and want to be entrepreneur someday.

I have some advices for everyone who want to be a freelancer;

  1. To be a freelancer is just step to be an entrepreneur, if you have a knowledge how to be an entrepreneur you can skip to be a freelancers. Lets think and collaborate with another freelancer about how to build a product, use your knowledge that you have.
  2. Become an officer is not despicable like what you thought. It also a step to be an entrepreneur if you want.

 

Image credit: http://www.flickr.com/photos/pinksherbet/236299644/

Learn Faster with Your Teacher

I spent almost 3 years to learn about front-end developing. I did by my self, without any mentor/teacher. Learn from several articles on web, links from twitter or stackoverflow. Follow some front-ends jedi on twitter it also helps me to learn latest front-end tech.

3 years as front-end developer I still feel foolish, can’t build something with latest front-end tech. And I just realized that learn something from the others is faster than you learn or find solution by your self. How faster? It can be 10 times faster. When I’ve to spent 3 years to learn about front-end development you just need to spend 3 months to learn it and you will know everything about latest tricks without you learn the old tricks.

How can I knew about it? I have a friend who wants to learn about front-end development. And she asks me to teach her. She got some jobs from her boss to convert PSD to HTML/CSS. So she is learning by doing. Her boss ask to her to convert PSD with latest front-end tech, reduce use images, optimize the css, font-face, icon font etc. I thought the boss will give the basic rule to convert PSD, but I was wrong, he asks to her like he asks me to convert the PSD.

Because of the situation, I’ve to teach her with everything that I just learned yesterday. Because she has a big passion on front-end thingy, she was happy to do everything and learn everything from me. Just 3 months learn about front-end development, and now she will become like me. Wow…

 

Image credit: http://www.flickr.com/photos/chrishunkeler/8049103309/